2 Penembak Jitu Senjata Thermo Gun ala Satman

Apa yang terkenal di masa pandemi Covid-19 yang sedang kita alami ini? Masing-masing tentu akan memiliki daftar istilah yang terkenal, ada yang beda, namun banyak yang sama.

Misal istilah social distancing, hand sanitizer, rapid test, swab, dan thermo gun. Dan istilah yang terakhir ini, sepertinya sedang naik daun. Kenapa? Karena lebih sering digunakan oleh banyak instansi, institusi, lembaga, kantor, dan yang lainnya untuk menjadi langkah preventif penyebaran covid.

Thermo gun atau thermometer gun atau kalau diartikan secara bebas, pistol pengukur suhu. Alat yang harganya rentang 100-300 ribuan ini digunakan sebagai alat pengukur suhu melalui “tembakan” sinar infrared, melalui dahi. Alat ini menjadi alat efektif mengukur suhu, yang konon jika mencapai suhu 38 derajat celsius, maka disinyalir bermasalah dengan covid.

Di SMP Negeri 1 Mande, untuk even-even yang melibatkan banyak massa (guru/siswa/orang tua), “senjata”ini sering digunakan.

Dan Satman memiliki dua “snipper” alias penembak jitu dengan senjata thermo gun ini. Mereka adalah Pak Yosep Sopian dan Pak Aris Supyan Purnama, yang selalu sigap “menembak” dahi-dahi tetamu, satu persatu.

Baca Juga:  Dibuang Sayang, Materi Outbond SMPN 1 Mande yang Tetap Mengesankan

Ini contoh aksi para “snipper” ini dalam misi penjagaan ketat terhadap covid-19

Setiap orang memiliki peran masing-masing yang berkontribusi bagi kemajuan dan lajunya proses pendidikan. Bukan bicara tentang besar kecilnya peran, bukan tentang siapa paling berjasa, namun semua akan saling melengkapi.

Caraka punya andil kemajuan sekolah dalam hal kebersihan, keindahan, dan keamanan. Para guru berperan sebagai ujung tombak proses pembelajaran dan pendidikan bagi siswa. TU, pustakawan, dan siapapun yang beraktivitas di sekolah, memilki peran dan jasanya masing-masing, yang membentuk harmoni laksana jari-jari sepeda yang indah dipandang dan membentuk gerak laju.

Kembali ke para snipper Satman. Para snipper ini telah membuktikan kesigapannya. Jadwal pertemuan dengan orang tua mulai pukul 8 pagi. Namun ketika saya japri, saya akan memulainya lebih awal, pukul setengah delapan. Jawaban mereka, “Saya jam 7 juga siap”. Dan itu terbukti. Terima kasih, Sob.

Demikian sahabat cerita tentang para snipper Satman ini. Sebuah artikel sederhana yang dibuat sambil tiduran, asli😁.

Terima kasih Pak Yosep, Pak Aris, semangat🙋‍♂

5 Comments

Tinggalkan Balasan