Catatan Tentang Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)

Ini sebuah artikel “serius”, ditujukan terutama untuk anak-anak didik kita, agar mereka dan juga kita, bisa berbakti kepada orang tua dengan sebenar-benarnya kebaktian. Menjadi panduan sekaligus pengingat tentang bamti kepada orang tua, mumpung mereka masih ada.


Berbaktilah kepada orang tua engkau niscaya anak-anak engkau pun akan berbakti kepada engkau.”

Birrul wa lidain (berbuat baik pada kedua orang tua) merupakan amalan agung yang sangat dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan, saking agungnya Allah gabungkan antara mengesakan Allah dan berbuat baik pada kedua orang tua. Nabi pun pernah ditanya amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ? Nabi pun menjawab: “Birrul wa lidain”.
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: (الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا) قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ (ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ) قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ (ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ) – قَالَ حدثني بهن ولو استزدته لزادنى – صحيح «الإرواء» (١١٩٨)


Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal manakah yang dicintai Allah Azza wa Jalla?” Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.”
“Kemudian apa lagi,” tanyaku. Beliau menjawab, “Kemudian berbakti kepada orang tua.”
“Lalu apa lagi?” tanyaku. “Kemudian berjihad di jalan Allah,” jawab beliau.
Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau saja aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menambahkannya.” [Shahih dalam al-irwa’ no. 1198].

Birrul wa lidain merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu menuju surga-Nya. Maka barangsiapa yang melihat posisinya di surga kelak maka lihatlah sejauh mana baktimu pada kedua orang tuamu.

Baca Juga:  Pembelajaran Daring Menggunakan Quizizz, Belajar Serasa Main Game


الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ
Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Orang tua memiliki tempat yang agung dalam semua agama. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan kepada mereka kedudukan yang tinggi, oleh karena itu wajib bagimu untuk mengambil kesempatan yang ada untuk berbakti pada kedua orang tuamu.
Jangan berdebat dengan ibu atau ayahmu … meski engkau dalam posisi yang benar sekalipun !!!

Birrul wa lidain itu bukan hanya kecupan yang engkau kecupkan di kepala ibu, atau ayahmu, di tangan mereka, atau bahkan di kaki mereka, sehingga engkau beranggapan bahwa engkau telah mencapai tujuan mendapatkan ridha dari kedunya !

Dan bukan pula beranggapan dengan membuat kata-kata dalam bentuk WhatsApp atau Facebook, atau mendengar nasheed tentang ibu hingga matamu berkaca-kaca itu cukup menjadikanmu orang yang paling bakti pada kedua orang tuamu !!!! Bukan birrul wa lidain yang seperti ini yang kita maksud !!!

Lantas apa itu birrul wa lidain ?

Birrul wa lidain itu:
Engkau “melihat” apa yang ada di dalam hati orang tuamu, kemudian engkau melaksanakannya tanpa menunggu perintah dari mereka.

Birrul wa lidain itu:
Engkau tahu apa yang membuat mereka bahagia, engkau pun cepat-cepat melakukannya, mengetahui dan menyadari apa-apa yang menyakiti mereka, engkau pun berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya sama sekali darimu !

Birrul wa lidain itu:
Boleh jadi tentang sesuatu yang engkau rasakan – ibumu membicarakan denganmu- ia menyukainya, engkau pun membawakannya tanpa sepengetahuan ibunya, meskipun itu hanya secangkir teh !!!

Baca Juga:  Mikawanoh Jam Sunda, Kumpulan Waktu Warisan Kolot Baheula

Birrul wa lidain itu:
Berhati-hatilah pada kenyamanan orang tuamu, bahkan jika itu mengorbankan kebahagiaanmu, jika engkau begadang di luar membuat mereka tertekan, maka tidurmu lebih awal itu termasuk bakti bagi keduanya, bahkan jika engkau melewatkan begadang malam bersama teman-teman sebayamu, engkau pun akan merasakan lapang dada !!!

Birrul wa lidain itu:
Menyerahkan sebagian uangmu pada ibumu, sekalipun ibumu memilliki jutaan uang – tanpa berpikir panjang – berapa banyak yang ibumu miliki, berapa banyak yang ibumu habiskan, apakah ibumu membutuhkan atau tidak, memang engkau bisa mengganti apa yang ibumu berikan tapi tidak pernah akan bisa mengganti saat-saat begadangnya, lelahnya, kecemasannya dan perjuangan di malam-malam berat yang ibumu habiskan untuk merawatmu di waktu kecil !!!

Birrul wa lidain itu:
Temukan kenyamanannya, jangan biarkan ibumu berusaha untuk membuatmu nyaman terus-menerus, cukuplah apa yang telah ibumu berikan padamu dari semenjak engkau lahir, sampai engkau mencapai usia hari ini !!!

Birrul wa lidain itu:
Buatlah ibumu tertawa, bahkan sekalipun di matamu enegkau harus menjadi badut/pelawak !!!

Ada banyak jalan birrul wa lidain yang mengantarkan ke surga, jadi jangan batasi hanya dengan kecupan saja, yang dalam hal ini saja mungkin banyak yang lalai !!!

Birrul wa lidain; Bukan pergantian pekerjaan antara engkau dengan saudaramu, tetapi persaingan di gerbang surga, baik mereka masih hidup atau usudah meninggal !!!

Sebuah pelajaran tentang birrul wa lidain…
“Seorang laki-laki membawa ayahnya yang sudah tua ke restoran mewah untuk makan malam.
Ayahnya sudah tua dan badanya gemetar lantaran usianya yang sudah sangat tua, ketika dia makan, makanan berserakan di lantai dan di pakaiannya …

Baca Juga:  Kreativitas Belajar di Masa Pandemi Covid-19 melalui Pembelajaran Berbasis Proyek

Pemandangan ini pun menarik perhatian semua orang yang ada di restoran.
Laki-laki tersebut tetap tenang dan menunggu sampai ayahnya selesai makan, setelah selesai laki-laki tersebut membawa ayahnya ke wastafel, mencuci tangan, mulut dan wajah, serta membersihkan pakaiannya dari makanan yang berserakan, kemudian kembali dan membersihkan tempat dengan tenang, membayar tagihan lalu pergi dalam tatapan semua orang yang di restoran!

Sementara ia dan ayahnya hendak masuk ke dalam mobil, seorang laki-laki yang ada di sana di dalam restoran “mengikutinya” dan berkata kepadanya:

Wahai tuan, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa engkau meninggalkan sesuatu di restoran ??
Ia berkata kepadanya: Tidak
Laki-laki tersebut menjawab:
“Sungguh engkau telah meninggalkan pelajaran yang mahal pada semua orang yang ada di restoran ini tentang arti sebuah BIRRUL WALIDAIN” !!

Birrul wa lidain adalah sebuah kisah yang engkau tulis dan kelak akan engkau kisahkan pada anak-anakmu, maka perbaikilah tulisanmu, perbaguslah kisahmu agar bisa menjadi teladan bagi anak-anakmu.

Seorang yang shalih terdahulu pernah berkata: “belum pernah aku melihat seseorang yang sukses dalam kehidupannya melainkan ada peran kedua orang tuanya”.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan kedua orang tua kami dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.


Wa Allah A’lam Bisshawab

4 Replies to “Catatan Tentang Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)”

Tinggalkan Balasan

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
Instagram
WhatsApp