Cerita Bu Mila, Mengayuh Sepeda Kehidupan Menggapai Harapan

Saya pernah membaca sebuah buku karangan Kang Dedi Mulyadi, dengan judul, ” Mengayuh Negeri dengan Cinta“. Sebuah buku setebal 202 halaman ini, semua rangkaian katanya terinspirasi dari filosofi mengayuh sepedah. Bahwa ketika kita mengayuh pedal sepeda, dan terus mengayuh, walaupun penat dan lambat, namun in syaa Allah akan sampai ke tujuan.

Filosofi yang sama dipegang kuat dan erat oleh Bu Mila Nursyafrianti. Menjalani episode kehidupan dengan menjadi seorang guru, yang dalam perjalanannya senantiasa menabur harap, menggapai apa yang dicitakannya. Menurutnya, perjalanan ini ibarat mengayuh sepeda. Berjalan pelan, namun jika dijalani, akan sampai ke tujuan. Penasaran? Yuk kita tuntaskan membaca cerita asli dari Bu Mila, dalam tulisan berikut ini.

Cerita Bu Mila, Mengayuh Sepeda Kehidupan Menggapai Harapan

Menjadi  seorang guru, bukanlah sebuah kebetulan bagiku. Sejak di bangku SD, cita-cita ini sudah sangat ingin aku wujudkan. Entah karena darah orang tua yang kuat, atau karena hal lain. Entahlah… yang aku tahu, cita-cita ini begitu menggebu dalam hatiku.

Bahkan menurut orang tuaku, sejak aku kecil, entah usiaku pada saat itu berapa tahun, akupun tak begitu ingat, tapi menurut mereka ketika bermain, aku paling suka bermain peran sekolah-sekolahan bersama teman masa kecilku, dan aku mengisi peran itu sebagai gurunya, dengan menggunakan baju seragam milik ibuku, dan dengan sepatu hak tinggi yang juga milik ibuku.

Baca Juga:  Mengenal Guru PKn di SMPN 1 Mande

Cita-cita itu semakin menggebu, pada saat aku masuk Sekolah Menengah Atas, di mana pada saat masa itu aku sudah mulai memilih apa yang aku suka, dan apa yang tidak aku suka.

Pada saat itu, ada seorang guru yang sangat menarik perhatianku, beliau seorang guru perempuan yang kalau zaman sekarang bisa disebut guru yang suka berpenampilan serba serasi atau matching, ketika baju yang beliau kenakan merah, maka kerudung, sepatu, dan tas yang beliau gunakan serasi. Apalagi dengan hak sepatu yang tinggi.

Indahnya Menjadi Guru…

Nah… dari situlah, bayangan tentang keindahan-keindahan menjadi seorang guru terus teringat, terbayang, sampai semakin menjadi dalam benakku. Cita-cita ini sempat ditentang oleh orang tuaku, hehe… entah kenapa, tapi aku terus saja bersikeras dengan cita-citaku tersebut. Sampai pada saat kelas 3 SMA pada saat itu, aku terpilih sebagai seorang siswi yang dapat PMDK Jurusan Pertanian pada saat itu. Namun, … aku tetap memilih guru dan melepaskan tawaran itu.

Hingga akhirnya, syukur Alhamdulillah pada saat ini, cita-cita yang aku mimpikan sejak kecil telah aku raih. Nah… untuk menjadi guru bahasa Indonesia ini, baru ini adalah sebuah kebetulan… hehe… karena sebetulnya cita-citaku dahulu adalah ingin menjadi seorang guru Matematika, inipun karena aku begitu terinspirasi dari guru Matematika ku di SMA.

Baca Juga:  Menyingkap Tabir, Siapa Guru PASKIBRA Pak Dida?

Bayangan-bayangan indah menjadi seorang guru pada saat itu terus terpikirkan, terus aku ingat dan menjadi sebuah motivasi agar aku bisa lulus dengan cepat.

Syukur Alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan sekolah tepat pada waktunya… dan jadilah seorang guru yang aku mimpikan sejak kecil.

Saat itu, ketika aku masih menyusun tugas akhirku. Alhamdulillah aku sudah diterima di sebuah sekolah besar, meski belum diterima sebagai seorang guru… pada saat itu, aku memulai karir pekerjaanku dengan menjadi seorang laboran, wkwkwkwk… padahal jurusan bahasa. Kemudian, tak lama menjadi seorang laboran, aku dipindahtugaskan menjadi seorang pegawai perpustakaan.. hehe… nah ini agak nyambung sepertinya. Hehehe….

Tak lama dari itu, tibalah sidang tugas akhirku, dan lulus sebagai seorang sarjana pendidikan, setelah wisuda, Alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk bisa mengajar di kelas, mulai dari 3 kelas dan dengan mapel yang berbeda dengan jurusan yang aku ampu. Alhamdulillah, semua bisa dijalani, akupun senang karena ini pilihan cita-citaku.

Perjalanan ini ternyata penuh dengan cerita, hehe… banyak hal yang dibayangkan sebelumnya, ternyata berbeda dari kenyataan lapangan yang harus dihadapi.. wkwkkkwkkw… apalagi pada saat itu bayangannya masih terpikir pada saat pemikiran siswa SMA. Hehe

Baca Juga:  Langkah Awal, Bersiap Menjadi Guru (Belajar) Menulis

Singkat cerita, untuk menjadi seorang guru ternyata tidak mudah… wkwkkw… belum menghadapi siswa yang beragam dengan karakter yang berbeda. Dan hal lainnya… tapi aku tak ingin berpaling dari pekerjaan ini, apa karena ini memang sudah cita-citaku sejak kecil… wkwkkw

Dan untuk menjadi seorang guru tetap pun, ternyata tidak semudah yang dibayangkan dulu… wkwkkw… semua harus melewati tes, dan….. entah sudah berapa kali tes, aku belum bisa lulus sesuai harapan,,, hehhee…

Tapi…. Syukur Alhamdulillah, saat ini aku begitu senang dan bersyukur tentang apa yang sudah aku peroleh saat ini… hehehe.

Komentar Saya…

Allah Ta’ala yang mengatur rizki semua makhluk-Nya, ar-rizqu minallah, bahwa rezeki itu dari Allah. Ketika kita berharap berada dalam satu keadaan, namun kenyataan belum memberi kesempatan untuk berada di keadaan tersebut, maka langkah terbaik adalah HHN ( hadapi, Hayati, dan Nikmati).

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, saya pribadi suka dengan cerita ini. Menjadi motivasi bagi yang belum mencapai asa, menjadi pemantik syukur bagi yang sudah menggenggam harapan. Semoga apapun yang kita hadapi, adalah yang terbaik menurut Sang Penggenggam kehidupan.

Barakallahu lana walakum.

5 Replies to “Cerita Bu Mila, Mengayuh Sepeda Kehidupan Menggapai Harapan”

  1. Saya sangat percaya bahwa Allah SWT yang mengatur Rizki yang mengatur segalanya,dan ketika kita pun meminta apapun dari Allah pasti dikabulkan asalkan kita sabar dan tawakal

Tinggalkan Balasan

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
Instagram
WhatsApp