Ketika Guru Menjual Diri

Artikel ini merupakan cuplikan pengalaman penulis ketika mengikuti seleksi Program Guru Penggerak Angkatan ke-2. Apa itu Guru Penggerak? Menurut rilis laman resmi Guru Penggerak, Pendidikan Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Tujuannya adalah meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah agar mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang berdaya dan berkomitmen dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik.

Kabupaten Cianjur menjadi dalah satu daerah sasaran untuk Program Guru Penggerak Angkatan II dengan kebutuhan 118 Guru Penggerak. Adapun untuk menjadi Guru Penggerak, seorang guru harus melewati tahapan seleksi dan pendidikan, baru kemudian ditetapkan sebagai seorang Guru Penggerak. Penulis mendaftar Program Guru Penggerak Angkatan II pada bulan Oktober 2020 (kapan tepatnya, penulis sudah lupa). Pendaftaran dilakukan secara daring melalui SIM PKB dan dilengkapi dengan surat rekomendasi dari atasan langsung penulis serta surat dukungan dari rekan sejawat.

Setelah dinyatakan lolos seleksi administratif, penulis mengikuti seleksi tahap 1 berupa Tes Bakat Skolastik yang terdiri dari Subtes Verbal : 30 soal, Subtes Kuantitatif : 20 soal dan Subtes Penalaran : 21 soal yang dilaksanakan secara daring dalam waktu 60 menit. Pada Tes Bakat Skolastik ini, penulis mengalami hambatan yang cukup berat. Yang pertama adalah pada subtes kuantitatif. Penulis diharuskan menjawab soal-soal matematika yang merupakan mapel tersulit bagi penulis sejak bangku sekolah dahulu. Hambatan kedua adalah jaringan internet yang tidak stabil. Hal ini menyebabkan penulis tidak dapat mengerjakan seluruh soal ujian tepat waktu. Akan tetapi, pihak Kemendikbud memberikan jadwal ujian baru, khusus bagi yang belum menyelesaikan TBS karena kendala jaringan.

Baca Juga:  Mengupas Sedikit tentang Literasi Sains

Setelah dinyatakan lulus seleksi tahap 1, penulis mengikuti seleksi tahap 2 berupa simulasi mengajar dan wawancara. Sebelum melaksanakan seleksi mengajar, penulis harus mengunggah RPP di laman guruberbagi.id. Simulasi mengajar dilaksanakan secara daring melalui google meet dalam waktu antara 10-30 menit di hadapan 2 orang asesor dan seorang pemantau. Penulis mendapat jadwal simulasi pada tanggal 14 Januari 2021 pukul 18.30-19.00. Ini adalah pengalaman pertama penulis melaksanakan simulasi mengajar secara daring. Alhamdulilah, penulis memiliki rekan yang memberikan banyak masukan untuk simulasi termasuk membantu latihan simulasi melaui google meet. Salah satu masukan yang sangat berguna adalah mengenai pencahayaan. Mengingat jadwal simulasi mengajar penulis pada malam hari, penulis menggunakan lampu darurat untuk membantu pencahayaan, sehingga penilai dapat melihat simulasi yang dilakukan penulis lebih jelas.

Bagian kedua dari seleksi tahap 2 adalah seleksi wawancara. Penulis mendapat jadwal wawancara pada tanggal 13 Februari 2021 pukul 08.00-09.30. Wawancara dilaksanakan secara daring melalui aplikasi google meet. Ada 2 orang asesor yang mewawancara penulis secara bergantian. Namun berdasarkan (Undang-undang nomor 11 tahun 2008/UU ITE), penulis tidak dapat mengabadikan dan menyebarkan proses wawancara. Akan tetapi hal penting yang dapat dibagikan penulis disini adalah, proses wawancara berlangsung secara menyenangkan. Para asesor sangat bijak dalam mengajukan pertanyaan, jauh dari kesan menggurui apalagi sampai menekan. Pertanyaan yang diajukan adalah seputar keseharian pekerjaan penulis, hambatan yang dihadapi dan bagaimana cara penulis mengatasi hambatan tersebut.

Baca Juga:  Catatan Tentang Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)

Hal yang menurut penulis paling menarik adalah ketika penulis diminta untuk menjelaskan keunggulan penulis. Satu hal yang sangat sulit bagi penulis. Karena sejak dahulu, penulis dididik untuk selalu rendah hati, tidak menyombongkan prestasi dan hal semacamnya. Namun ketika wawancara, asesor menegaskan bahwa penulis harus menonjolkan keunggulan atau prestasi yang pernah diraih sehingga dapat dipertimbangkan untuk lulus seleksi.

Ini adalah konsep baru bagi penulis, namun bukan hal baru dalam konteks komunikasi. Konsep menjual diri dalam konteks positif adalah, bagaimana kita bisa menampilkan sisi terbaik dan prestasi yang diraih agar pihak/orang lain tertarik menggunakan jasa kita. Seorang adik kelas pernah membagikan pengalamannya ketika diinterview oleh salah satu vendor aplikasi pembelajaraan daring. Dia ditanya apa kemampuan anda dan berapa gaji yang diminta. Menjadi guru millenials, rupanya kita juga dituntut untuk mampu “menjual diri”. Yang dimulai dengan mengenali, menggali dan mengembangkan potensi sehingga dapat memberikan yang terbaik dari potensi kita bagi proses pendidikan peserta didik tercinta.

9 Replies to “Ketika Guru Menjual Diri”

  1. Tulisan ibu ini sangat menginspirasi. Guru harus selalu berkreasi dan berbagi. Saya semakin semangat untuk ikut guru penggerak.

Tinggalkan Balasan

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
Instagram
WhatsApp