Menyingkap Tabir, Siapa Guru PASKIBRA Pak Dida?

Wawancara dengan Pak Dida Purnama. Fotografer : Pak Januar Aripin

Membaca judul di atas, apa yang Sahabat fikirkan? Tentu sesuatu yang berbau mistik, terutama dengan frasa ” menyingkap tabir”. Tapi tenang, ini bukan tentang sesuatu yang menyeramkan, walaupun judulnya menyingkap tabir.

Sebagaimana salah satu jargon dari website resmi SMPN 1 Mande ini, ” Semua Tentang Kita“, yang dalam aplikasinya mengeksplorasi segala hal yang ada di sekolah ini, dan yang berhubungan dengannya. Tentu termasuk di dalamnya adalah segala potensi guru, tenaga kependidikan, dan siswa.

Kita Mulai dari Pembentukan Pasukan Pengibar Bendera di Mande, dahulu kala…

SMPN 1 Mande, dahulu bernama SMPN Mande yang merupakan sekolah fillial dari SMPN 1 Cianjur. Lokasinya jauh, yaitu di daerah Mande yang sekarang tergenang PLTA Cirata. Waktu itu di Kecamatan Mande baru ada 2 sekolah, yaitu SMPN Mande dan SMPN Kademangan.

Dalam momen pengibaran bendera di ulang tahun kemerdekaan, di Kecamatan Mande dulu, dilakukan oleh para tentara aktif hasil didikan tentara PETA zaman Jepang. Terekam dalam sejarah, ada nama Bah Momo (almarhum) di Lanjung sekarang, Bah Rohim, dan yang lainnya, termasuk yang setia menjadi pengibar bendera.

Baca Juga:  Mengenal Guru IPA di SMPN 1 Mande

Seiring waktu, tentara pengibar bendera ini menularkan kemampuannya kepada anak sekolah, dan dipilihlah SMPN Mande. Ada Pak Supardi yang ikut menjadi kader paskibra ini. Dan yang jadi kebahagiaan bagi kita, ada sosok Pak Wahyu, salah seorang pegawai di sekolah kita, yang menjadi kader utama pengibar bendera, yang waktu itu beliau masih berstatus siswa SMP.

Cerita berlanjut, Mengungkap Guru Paskibra Pak Dida

Salah satu aktivitas PASKIBRA Mande

Pak Dida Purnama, alumni SMPN 1 Mande tahun 1991 ini menjadi penyambung estafet pembinaan paskibra. Bersama Kang Uding, Bu Eti Sumiati, Hj. Eni Jangari, Kang Babay, Ridwan, Asep, dan yang lainnya, Pak Dida aktif dalam pengibaran bendera, pra dan pasca-nya.

Selain di level sekolah, paskibra ini menembus level kecamatan dan kabupaten. Setiap tahun wakil-wakil Satman ini menjadi pasukan utama mengibarkan bendera dalam peringatan kemerdekaan. Tentu menjadi kebanggaan bagi kita. Namun ternyata ada yang lebih membahagiakan bagi kita, alumni-alumni ini berhasil menjadi “orang”, menjadi sosok penting di masyarakat.

Guru Pak Dida dalam Paskibra

Ini yang (mungkin) kita tunggu, siapa yang melatih dan membimbing Pak Dida dan kawan-kawan dalam aktivitas paskibra ini. Setelah melakukan wawancara dengan Bah Entah dan Pak Dida sendiri, terungkap bahwa Pak Wahyu-lah yang menjadi tutor Pak Dida.

Baca Juga:  Mengenal Pustakawan di SMPN 1 Mande

Wah, seolah tak kehabisan potensi, alhamdulillah estafet [embinaan paskibra di SMPN 1 Mande terus berlanjut. Dari para tentara di Mande dulu, Pak Wahyu mendapatkan ilmu paskibra. Kemudian ilmu itu tidak diendapkan, melainkan diteruskan kepada Pak Dida. Tak berhenti sampai di situ, Pak Dida juga aktif membimbing generasi di bawahnya untuk terampil menjadi pengibar bendera.

Setelah itu…

Aktivitas pengibar bendera tidak berhenti hanya setelah mengibarkan bendera di momen-momen tertentu, namun juga ada aktivitas lain selain itu. Para pengibar ini otomatis tergabung ke dalam sebuah OKP (ormas kepemudaan) yang bernama PPI (Purna Paskibra Indonesia), dan untuk PPI di Mande, Pak Dida bertindak sebagai pembinanya. Selain PPI, ada juga PKC (Paskibra Kabupaten Cianjur), yang dikhususkan bagi pelajar-pelajar yang aktif menjadi anggota pengibar bendera.

Apa fungsi Guru?

Kalau sahabat membaca sejarah, ada seorang muslim penakluk Konstantinopel sekaligus meruntuhkan hegemoni Kristen Eropa waktu itu. Sosok itu bernama, Muhammad Al Fatih. Kehebatan dirinya, ternyata tak lepas dari bimbingan gurunya yang selain mengajarkan ilmu, memberi motivasi, dan selalu mengingatkan kepada kekuasaan Allah. Beliau adalah Syeikh Aaq Samsudin.

Baca Juga:  Mengenal Guru Matematika di SMPN 1 Mande

Di level nasional, ada sosok yang hebat yaitu Bung Karno. Siapa gurunya? Ternyata ada sosok yang hebat juga di belakang kehebatan muridnya, yaitu Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto) yang juga sebagai pahlawan nasional.

Jadi, tak bisa dipungkiri, bahwa peran guru bagi muridnya begitu luar biasa.

A Tribute

Sebuah penghargaan walau dengan kata-kata, dikhususkan kepada Pak Dida Purnama dan Pak Wahyu atas dedikasinya dalam mendidik generasi muda dalam bidang PASKIBRA. Empat jempol buat Anda berdua!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan