Pohon Belimbing ini, Kenangan untuk Setitik Kebaikan bagi Satman

Ini sebuah posting sederhana saja. Ketika suatu pagi berjalan-jalan bersama Pak H Atet, Bu Hj Eko, dan Bu Siti Jenab, di pelataran sekolah tercinta, yang kini banyak ditumbuhi rerumputan. Bah Entah terlihat sedang bersih-bersih halaman bersama dengan caraka yang lainnya.

Pandangan tertuju ke sebuah pohon, ya pohon belimbing, yang seingat saya pohon itu sudah tumbuh ketika saya mulai meniti langkah sebagai pelajar di sekolah ini, tahun 1989. Sebenarnya kapan sih pohon ini ditanam?

Menurut Bah Entah dan Pak H Atet, pohon belimbing ini ditanam sekitar tahun 1986. Kalau dihitung, berarti sudah 35 tahun pohon belimbing ini berdiri kokoh. Ditanam di masa kepemimpinan Pak Ganda sebagai kepala sekolah. Saya sendiri ketika jadi pelajar selama 3 tahun di sekolah ini, sudah dikepalai 3 orang, yaitu Pak Pia, Pak Ganda, dan ijazah SMP ditandatangani Pak Sahal.

Menulis tentang belimbing ini, jadi teringat sebuah acara TV bertajuk, “Melawan Lupa”. Memang kita kadang lupa sebuah hal di masa lalu, namun ada juga yang masih ada di benak menjadi kenangan. Hal yang membuat kita teringat seseorang adalah karena karya yang dibuatnya, atau karena kebaikannya, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Apa yang Kita Wariskan bagi Anak?

Misal, kembali ke Satman. Pak Haji ketika ditunjukkan pohon belimbing, ingatan beliau langsung tertuju ke Pak Ganda. Atau ketika menamai mesjid megah di SMPN 1 Mande, saya bersama DKM langsung mencari informasi, siapa dulu yang pertama kali memberi nama. Ternyata Pak Oo Faturohman, memberi nama mesjid yang dulu “kumuh” ini dengan nama Daarul Uluum.

Atau bahkan dengan eksistensi Satman sendiri. Guru-guru senior langsung menunjuk beberapa nama yang erat kaitannya dengan rintisan awal Satman.

Siapa perintisnya? Pak Aam Muharram Toha (alm)

Siapa alumni pertama (tahun 1968) dari Satman? Jawabannya, salah satunya adalah mertuanya Bu Darisa (maaf lupa namanya).

Dan masih banyak yang memiliki jasa untuk Satman hingga kini.

Jadi apa makna semua ini?

Manusia akan dihargai dan dikenang karena jasa dan kebaikannya, walau kelihatannya kecil. Jasa yang bagaimana, kebaikan yang bagaimana?

Masih ingat kan, apa definisi kebaikan dalam Islam? Sesuatu dikatakan baik jika memenuhi dua syarat mutlak yang mesti ada, yaitu:

  1. Ikhlas, segalanya diniatkan karena dan untuk Allah, bukan untuk yang lain. Bukan untuk mendapat pujian, bukan pula semata untuk mendapatkan imbalan.
  2. Ittiba’, artinya mengikuti apapun ketentuan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam. Perbuatan itu tidak menyimpang dari kebenaran, dan tidak dibumbui sesuatu yang berdasar nafsu.
Baca Juga:  Bangku Literasi yang Kian Terasa Sepi

Jika dua hal ini terpenuhi, maka sebuah perbuatan akan menjadi kebaikan yang berbuah pahala.

Maka, setelah kita tiada, kita akan dikenang sebagai apa, baik di Satman, maupun di kehidupan secara umum.

Apakah kita dikenang sebagai orang yang berjasa membuat karya dan membangun nama baik lembaga dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan? Ataukah dikenang sebagai orang yang merusak tatanan dan melanggengkan kebobrokan?

Tentu pilihan tergantung kita.

Namun tentu, untuk menjadi pahlawan, kita harus berbagi peran. Layaknya bermain sepakbola. Semua lini terdistribusi. Semua posisi ada yang mengisi, tanpa ada yang merasa paling berjasa. Sehebat apapun Cristiano Ronaldo, takkan mampu mengalahkan Perkesit sekalipun, jika ia bermain sendirian.

Maka, untuk merangkai sebuah kebaikan dalam kebersamaan, tiada jalan lain, selain memeratakan peran, memberi kesempatan yang sama untuk semua, dan pada akhirnya, kita akan merangkai karya bersama.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan