Renungan Malam: Ketika Kita Sudah Cukup Tua Deni Kurnia, 16 September 202016 September 2020 Hanya sebuah renungan sebelum beranjak ke peraduan. Refleksi terhadap segala langkah yang kita pilih. Memantau gerak raga dan lintasan kalbu, ke arah mana kita menuju. Ini cerita tentang aku, anda, dan kita semua. Yang senantiasa ditawarkan dua pilihan, fujuroha wa taqwaha. Jalan yang menyelamatkan atau jalan yang mendatangkan kesengsaraan. Kita mulai dari sini..… Ketika kita sudah cukup tua, sudah banyak melihat dan mengenal manusia, dan cukup banyak membaca literasi. Maka kita akan tahu, kebanyakan dosa itu terjadi tanpa disadari Pembohong, pemfitnah, penista, penyiksa, bahkan pembunuh sekalipun merasa apa yang mereka lakukan adalah hal yang baik, bahkan mampu mendaftar alasan panjang pembenaran Kita pikir kita sedang memperbaiki manusia, padahal arogansi takabur bersembunyi di baliknya. Kita kita kita punya sistem lebih baik, padahal keserakahan mengintip darinya Kita rasa kita sedang membantu kawan, padahal meninggikan diri dengan merendahkannya. Kita katakan ini demi kebaikannya, tapi kita umbar aib dan kita mengghibahnya pada ramai orang Baca Juga: Masih Ada Doa, Bagi Yang Tak BerdayaKita yakin sedang menegakkan agama, tanpa kita sadari kita sedang memuaskan diri dengan berbuat kasar, mendapatkan kenikmatan diatas kesalahan dengan menghina orang lain Kita meyakinkan diri kita sendiri, bahwa kesemuanya tak ada untuk diri kita sendiri, ternyata kalimat-kalimat kita pun kita jadikan sebagai cara untuk “terlihat humble” dan suci Entah berapa banyak lagi keburukan bertopengkan kebaikan yang bisa ditulis, yang tak diakui, yang tak disadari. Syaitan pro dalam hal ini, legend dalam sejarah menipu manusia Andai tak ada perintah Allah untuk terus-menerus menyelidiki diri sementara tetap beramal, rasanya ingin berhenti saja dari berbuat baik, sebab khawatir tipu-tipu yang menyertainya Tapi berhenti beramal baik justru adalah tujuan syaitan dari awal. Sebab berhenti berbuat baik adalah permulaan maksiat. Sungguh membingungkan memang dunia ini Yang selamat hanya orang-orang yang ikhlas, mereka yang hanya mengharap pada Allah. Hanya saja ikhlas ini adalah perjalanan tanpa akhir, pekerjaan tanpa henti, sampai mati nanti Semua amal baik harus terus-menerus ditelisik, sementara amal buruk tetap mengintai. Inilah mengapa dunia itu begitu membuat pusing, dan begitu menguras kesabaran Baca Juga: Hidup Ini Tentang Faith, Teamwork, and FocusTapi tanpa semua itu, bagaimana Allah ridha dengan kita? Inspiration Profil Penulis Deni Kurnia Seorang Pembelajar, Tak Lebih. Artikel Terbaru dari Penulis Satman News11 Mei 2026FLS3N 2026 Dimulai, SMPN 1 Mande Siapkan Pendamping dan Strategi Terbaik Satman News11 Mei 2026Upacara Bendera SMPN 1 Mande: Belajar Makna Kehidupan dari Layang-Layang Satman News10 Mei 2026Mengingat Kematian sebagai Tanda Kecerdasan Spiritual Satman News18 Juni 2025Mie Sedaap Berbagi 240 Porsi Mie Gratis di SMPN 1 Mande Cianjur Yang Ini Juga Keren:Pemprov Jawa Barat Terapkan Jam Malam bagi Pelajar,…17 Mei, Memperingati Hari Perpustakaan Nasional,… Opini Allah ridha dengan kitakeburukan bertopeng kebaikanrenungan malam