Saat Ini, Saatnya Angkat Tangan Lebih Tinggi

Kita hidup di sebuah masa, kala yang dzalim merasa pahlawan, arogansi jadi tontonan, dan para pemaksiat sudah tak lagi perlu menyembunyikan dosa.

Saat ini mereka yang menghamba pada uang mengajar tentang pengorbanan, yang tak pernah belajar agama kini jadi pemutus mana Islami mana tidak.

Para pembunuh meneriaki pendakwah dengan sebutan radikal, toleransi lalu dimaknai “aku”, selainku maka pastilah intoleran, itu kejadian saat ini.

Koruptor berbicara tentang kejujuran, preman-preman melaporkan orang lain dengan ujaran kebencian, korban didakwa jadi pelaku, pelakunya jadi hakim.

Saat Pancasila bermakna pendukung penguasa, saat Indonesia hanya boleh dibanggakan oleh mereka yang menjual tiap jengkal tanah negeri dan isinya.

Tiap mereka yang mengkritik dilabel sebagai makar, minimal radikal atau bebal. Undang-undang tak lebih dari main-main, yang dibuat oleh syahwat sesat.

Asal anda mendukung penguasa, anda boleh jadi apa saja, urusan kelautan lalu urus properti boleh, urusan perhubungan lalu memgurus agama, tak apa.

BerIslam hanya boleh shalat, puasa dan ritual saja. Tapi jangan pakai Al-Quran dalam kehidupan sosial, apalagi bila ia bertentangan dengan penguasa.

Baca Juga:  Memaknai Rasa Cinta dan Benci

Karena penguasa saat ini lebih hebat dari Tuhan, ayat Tuhan pun harus dia sortir, mana yang sesuai untuk negara mana yang bakal akibatkan kekerasan.

Maka angkatlah tangan, bukan untuk menyerah kalah, atau tanda sudah tak lagi punya usaha. Angkat tangan kita justru bermakna keyakinan lebih kuat.

Maka angkatlah tangan pada Allah, panjatkan pinta dan doa, sebab Allah Mahakuasa, pada-Nya kita berharap akan tiap-tiap kebaikan dan keberkahan.

Allah tidak tidur, balasan sudah disiapkan baik bagi mereka yang sabar ataupun yang sedang nyaman dalam kedzaliman, balasan di dunia juga akhirat.