Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98 di SMPN 1 Mande: Tanamkan Semangat Patriotik, Gigih, dan Empati

Mande, Rabu (28/10/2026) — SMPN 1 Mande menggelar upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Peringatan ini mengangkat tema “Patriotik, Gigih, dan Empati” sebagai pengingat pentingnya membangun generasi muda yang mencintai tanah air, tangguh menghadapi tantangan, dan peduli terhadap sesama.

Ketiga nilai tersebut tidak cukup hanya dipahami, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Patriotik: Cinta Tanah Air dalam Tindakan

Patriotik berarti memiliki rasa cinta tanah air dan semangat menjaga persatuan bangsa. Sikap ini tidak hanya ditunjukkan melalui penghormatan terhadap bendera Merah Putih, tetapi juga melalui tindakan nyata.

Bagi murid, semangat patriotik dapat diwujudkan dengan belajar sungguh-sungguh, menaati aturan, menghargai perbedaan, serta berkontribusi positif bagi lingkungan. Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah belah, melainkan kekuatan untuk membangun Indonesia.

Gigih: Memiliki Daya Juang dan Daya Tahan

Gigih bukan sekadar rajin atau bersemangat, melainkan memiliki daya juang dan daya tahan dalam menghadapi kesulitan. Orang yang gigih tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan, tetapi mau belajar, memperbaiki diri, dan mencoba kembali.

Dalam kehidupan sekolah, kegigihan terlihat ketika murid terus berusaha memahami pelajaran yang sulit, berlatih meningkatkan kemampuan, dan berani bangkit setelah mengalami kegagalan.

Daya juang mendorong seseorang untuk terus berusaha, sedangkan daya tahan membuatnya mampu bertahan dalam proses yang panjang. Keduanya diperlukan agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi tangguh, disiplin, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Empati: Peduli dan Berani Menolak Bullying

Empati adalah kemampuan memahami perasaan dan keadaan orang lain. Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan perasaan dan kesulitan orang di sekitar.

Salah satu wujud penting empati di sekolah adalah menolak bullying atau perundungan. Mengejek teman, menghina keadaan fisik atau keluarganya, mengucilkan, mengintimidasi, hingga mempermalukan seseorang melalui media sosial dapat menyakiti dan merusak rasa percaya diri korban.

Baca Juga:  TRADISI JUARA CABANG BULUTANGKIS PGRI RANTING MANDE TENGGARA

Terkadang, pelaku menganggap perbuatannya hanya bercanda. Namun, candaan yang merendahkan dan menyakiti orang lain tidak boleh dianggap sepele. Setiap murid perlu belajar menempatkan diri pada posisi orang yang menjadi sasaran perlakuan tersebut.

Empati bukan hanya berarti tidak melakukan perundungan, tetapi juga tidak ikut menertawakan korban, tidak menyebarkan ejekan, serta berani memberikan dukungan dan melaporkan kejadian kepada guru atau pihak sekolah.

Generasi muda yang kuat bukanlah mereka yang membuat orang lain takut, melainkan mereka yang mampu menggunakan kekuatannya untuk melindungi dan menguatkan sesama. Semangat persatuan harus terlihat dalam cara kita memperlakukan teman, bukan hanya dalam ikrar yang diucapkan saat upacara.

Susunan Petugas Upacara

Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di SMPN 1 Mande melibatkan para petugas berikut:

  • Pembina Upacara: Ibu Santi Kurniawati
  • Ajudan: Ibu Santi Sukmawati
  • Pemimpin Upacara: Bapak Robi Nurhidayat
  • Pengibar Bendera: Bapak Aria, Bapak Nico, dan Ibu Ester
  • Pemimpin Pasukan: Bapak Aris, Ibu Fatimah, dan Ibu Perdiani
  • TURA: Bapak Faisal
  • Pembaca UUD 1945: Ibu Mila N.
  • Pembaca Sumpah Pemuda: Ibu Hesti
  • Pembawa Acara: Ibu Siti Jenab
  • Dirigen: Ibu Maesyaroh
  • Pembaca Doa: Ibu Upi
  • Juru Foto: Ibu Desi dan Bapak Aden
  • Peliput: Bapak Deni Kurnia dan Ibu Sera
  • Juru Liwet: Ibu Hj. Eko, Bapak Jaka Budi, Ibu Loniawati, dan Ibu Fenty

Melalui peringatan ini, seluruh warga SMPN 1 Mande diharapkan semakin menghayati semangat Sumpah Pemuda dengan mengamalkan nilai patriotisme, kegigihan, dan empati dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat tersebut hendaknya tidak berhenti setelah upacara selesai, tetapi terus tumbuh dalam perilaku nyata: mencintai Indonesia, pantang menyerah dalam belajar, menghargai perbedaan, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman tanpa perundungan.