Ada satu hal menarik ketika kita berbicara tentang sekolah: bukan hanya gedung atau ruang kelasnya yang menempel di ingatan, melainkan juga hal-hal sederhana yang menyimpan cerita panjang. Di SMPN 1 Mande—yang dulu masih bernama SMPN Mande—ada sebuah pohon belimbing yang hingga kini masih berdiri tegak di halaman sekolah.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya pohon biasa. Tapi bagi alumni yang menimba ilmu di sana, terutama di akhir tahun 80-an hingga awal 90-an, pohon itu menyimpan makna tersendiri. Saat saya bersekolah tahun 1989–1992, dan Pak Dida Purnama (kakak kelas) tahun 1988–1991, pohon belimbing itu sudah tumbuh tinggi, teduh, dan menjadi bagian dari keseharian siswa.
Lebih dari Sekadar Pohon
Jika direnungkan, pohon belimbing itu adalah simbol keabadian kenangan. Di saat bangunan sekolah mungkin direnovasi, guru berganti, dan siswa datang serta pergi, pohon itu tetap ada. Ia seolah berkata, “Aku akan menyaksikan setiap generasi yang hadir, belajar, tertawa, bahkan mungkin menangis di bawah rindanganku.”
Secara filosofis, pohon belimbing bisa dimaknai sebagai lambang ilmu pengetahuan. Ia berbuah, memberikan manfaat, dan buahnya bisa dirasakan siapa saja yang mau meraihnya. Sama seperti ilmu yang diajarkan para guru di SMPN 1 Mande: sederhana, mungkin tampak biasa, tapi sebenarnya berharga dan memberi kehidupan.
Saksi Bisu Perjalanan Waktu
Bayangkan, dari tahun ke tahun, ribuan siswa pernah melintas di bawah pohon itu. Ada yang sekadar berteduh saat jam istirahat, ada yang bercanda sambil menunggu bel masuk, bahkan mungkin ada yang menyimpan cerita remaja di bawah bayangannya.
Pohon itu adalah saksi bisu perjalanan sekolah dan anak-anak muda yang pernah menimba ilmu di sana. Ia tidak pernah bicara, tapi dedaunan yang gugur dan tumbuh kembali setiap musim seolah melambangkan perjalanan hidup: ada perpisahan, ada kebangkitan baru.
Filosofi Belimbing: Rasa yang Beragam
Belimbing itu unik: ada yang manis, ada juga yang masam. Begitu pula hidup dan masa sekolah. Ada momen indah yang manis dikenang, ada juga pengalaman pahit yang mendewasakan. Justru dari perpaduan rasa itulah, kehidupan jadi lengkap.
Mungkin di situlah letak makna terdalam dari pohon belimbing SMPN 1 Mande. Ia mengingatkan kita bahwa hidup adalah kombinasi antara manis dan asam, dan keduanya sama-sama diperlukan agar kita tumbuh lebih kuat.
Penutup
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, pohon itu masih berdiri tegak. Ia bukan sekadar pohon, melainkan penjaga memori kolektif para alumni SMPN 1 Mande. Ia menjadi pengingat bahwa masa muda pernah kita lewati di bawah langit Mande, dengan segala cerita, cita-cita, dan kenangan yang melekat.
Bagi generasi sekarang, mungkin pohon itu hanyalah tempat berteduh. Tapi bagi kita yang pernah melewati masa itu, ia adalah simbol perjalanan, persahabatan, dan ilmu yang tak lekang dimakan waktu.
Profil Penulis

-
Seorang Pembelajar, Tak Lebih.
www.abufadli.com
Artikel Terbaru dari Penulis
Satman News24 September 2025Pohon Belimbing Legendaris di SMPN 1 Mande: Saksi Bisu Waktu dan Kenangan
Satman News9 September 2025Rame-Rame Bikin Petis di Jam Istirahat, Guru SMPN 1 Mande Punya Cara Unik Jaga Kebersamaan
Satman News14 Agustus 2025Upacara HUT Pramuka di SMPN 1 Mande bersama Camat Mande
Satman News18 Juni 2025Mie Sedaap Berbagi 240 Porsi Mie Gratis di SMPN 1 Mande Cianjur






