Renungan Pagi: Mengapa Merasa Hampa? Deni Kurnia, 6 September 20206 September 2020 Sebuah iklan makanan mengusung jargon, “Life is Never Flat“. Maknanya, hidup itu tak mungkin datar-datar saja. Selalu ada masanya menanjak, di saat lain menemui turunan. Ada kalanya kita bahagia, di saat lain menemui kesedihan. Itu sunatullah, yang mengiringi hidup manusia. Sebagai bahan renungan, alangkah baiknya Sahabat semua melanjutkan coretan sederhana ini. Tak usah dikritisi, cukup dihayati saja. OK, selamat membaca dan merenungi maknanya. Ketika engkau cukup lama menjalani sesuatu, akan datang satu masa saat engkau kehilangan makna. Bingung, hampa, kosong, seolah berjalan tanpa arah dan tujuan Maka kebosanan akan segera menghampiri, kelesuan dan rasa malas pun tak terelakkan. Jangankan semangat, sekedar normal saja sudah sulit untuk dipertahankan Orang bilang itu masa crisis, insecurities, atau apapun. Yang jelas engkau berhenti berharap, dan menerima kenyataan apa adanya, menjadi manusia terburuk, jiwa tanpa idealisme Mungkin itu saatnya kita untuk kembali berpikir dan menata hati, menyendiri untuk lebih banyak mendengar dari diri sendiri, menyepi agar lebih banyak bicara dengan kebenaran Baca Juga: Hidup Ini Tentang Faith, Teamwork, and FocusBenarlah tutur Sang Bijak, dunia ini seperti air yang diseberangi. Panjang tempuhannya, lama jelajahnya, tapi selama kita ada diatas air, maka kita akan selamat, semua baik-baik saja Namun ada kalanya kita terpesona dengan keindahan bawah air, menahan nafas hingga tak tersisa bagi otak. Padahal kita dicipta bukan untuk ada diatas air, bukan dibawahnya Engkau pahami, saat dunia itu mulai mengikat hati. Ia hilangkan kenikmatan akhirat, pelan-pelan tanpa disadari. Ketika itu pula, makna dan arti kebahagiaan sejati direnggut darimu Mulailah candu-candu bahagia semu di-infuskan pada dirimu, seolah tanpa itu engkau tak bahagia. Budaya instan, kasar, pamer, mesum. Seolah tak ada hidup setelah hidup ini Jadi apa yang paling penting bagi kita? Jawaban itu bisa jadi ditopengi oleh kata-kata manis dan pencitraannya. Tapi nilai diri selalu bisa diketahui dari apa yang dikhawatirkan Apa yang kita khawatirkan? Harta? Popularitas? Pasangan? Makan buat besok? Atau diri kita sendiri? Masih dunia? Maka wajar saja akan datang masa kehampaan itu menghampiri Baca Juga: Blue print Website SMPN 1 Mande, Kini dan NantiMungkin saat ramai kita masih bisa terlihat bahagia, tapi kita tahu siapa diri kita saat kita sendiri. Hanya masalah waktu saja sampai kita membenci keramaian yang menipu Kecuali bila jiwa kita menemukan peraduannya, dia takkan pernah tenang. Sebab jiwa itu selalu dalam perjalanan, untuk menemukan asalnya, kembali kepada fitrahnya. Kembali ke Allah…. Profil Penulis Deni Kurnia Seorang Pembelajar, Tak Lebih. Artikel Terbaru dari Penulis Satman News11 Mei 2026FLS3N 2026 Dimulai, SMPN 1 Mande Siapkan Pendamping dan Strategi Terbaik Satman News11 Mei 2026Upacara Bendera SMPN 1 Mande: Belajar Makna Kehidupan dari Layang-Layang Satman News10 Mei 2026Mengingat Kematian sebagai Tanda Kecerdasan Spiritual Satman News18 Juni 2025Mie Sedaap Berbagi 240 Porsi Mie Gratis di SMPN 1 Mande Cianjur Yang Ini Juga Keren:Kamis Pagi Readathon Seni di SMPN 1 Mande Opini
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja keras, dan mencela orang yang hanya duduk berdoa di masjid agar uang turun dari langit sedangkan ia malas bekerja. Namun Islam juga memerintahkan agar kita selalu berdoa pada saat kita bekerja. Ketika kita berdoa, kita berharap kepada Allah. Kita pun diperintahkan untuk senantiasa optimis ketika berdoa. Inilah Islam yang memerintahkan keseimbangan antara berusaha dan berdoa, antara kerja dan harapan.