Mengupas Sedikit tentang Literasi Sains

Mendengar istilah “LITERASI” mungkin sudah tidak asing lagi, namun untuk dapat memaknainya secara menyeluruh sepertinya belum dapat sepenuhnya terealisasi dengan baik. Alhamdulillah…saya berkesempatan untuk belajar sedikit tentang Literasi Sains melalui Diklat Peningkatan Kompetensi Guru IPA Berbasis Litetasi Sains yang diselenggarakan atas kerjasama PPPPTK IPA bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.

Diklat ini dilaksanakan pada 20 – 26 September 2021 lalu di Hotel ARRA Lembah Pinus, Ciloto. Diklat ini diselenggarakan dengan sasaran 60 orang Guru IPA dari SMP Negeri di Kabupaten Cianjur. Terpilih menjadi salah satu peserta diklat yang mewakili SMP Negeri 1 Mande adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagi saya.

Diklat yang dilksanakan selama sepekan ini dengan materi yang padat, ditutup dengan penyusunan RTL (Rencana Tindk Lanjut) yang baru dapat saya selesaikan pada 10 November 2021 kemarin. Memang perjalanan yang cukup panjang tapi penuh makna bagi saya khususnya, dalam mengkaji dan memaknai sedikit tentang literasi sains. Dan kali ini, saya ingin membagikan hasil belajar dan kerja yang belum sempurna ini…tetapi semoga ada sedikit kebermanfaatan yang dapat diraih 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Konsep Dasar Literasi Sains

Literasi Sains (Scientific Literacy) adalah kemampuan mengidentifikasi, memahami dan memaknai isu terkait sains yang diperlukan seseorang untuk mengambil keputusan berdasarkan bukti-bukti saintifik.

Terdapat empat domain literasi sains menurut PISA, yaitu:
  1. Domain konteks, berhubungan dengan topik permasalahan.
  2. Domain kompetensi, berhubungan dengan kemampuan literasi sains yang dikembangkan.
  3. Domain pengetahuan, berhubungan dengan cakupan materi.
  4. Domain afektif, berhubungan dengan ketertarikan peserta didik.
Baca Juga:  Akun Pembelajaran - Fasilitas Pembelajaran Elektronik dari Kemendikbud

Pendalaman Materi IPA Berbasis Literasi Sains

Dalam perspektif pedagogi, literasi menjadi indikator keberhasilan implementasi kurikulum. Proses pedagogi menjadi interaksi antara guru, peserta didik, dan lingkungan. Dalam interaksi tersebut terdapat dua fenomena, yaitu membentuk pengetahuan (construct) dan menginternalisasi nilai-nilai kehidupan secara tekstual dan kontekstual.

Aspek tekstual memberikan kerangka pedagogi untuk menyeleksi konteks yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran. Sedangkan aspek kontekstual, memperkaya pokok bahasan suatu materi. Proses pemahaman aspek tekstual dan kontekstual harus meningkat secara berjenjang. Pembentukan kompetensi literasi untuk setiap pokok bahasan harus memenuhi tahap knowing, understanding, dan interpreting.

Setelah ketiga tahapan tersebut terpenuhi maka akan tersusun sebuah bahan ajar. Untuk mempermudah penyusunan bahan ajar tersebut, setelah dilakukan analisis KI/KD dapat dilanjutkan dengan pembuatan peta konsep dan struktur makro.

Pengembangan Desian dan Penyusunan RPP Berbasis Literasi Sains

Desain pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran berbasis literasi adalah Pendekatan Saintifik. Dengan demikian, bukanlah hal yang baru bagi kita semua yang sudah menerapakan Kurikulum 2013. Model-model pembelajaran yang dapat menjadi alternatif pembelajaran berbasis literasi adalah:

  1. Project Best Learning
  2. Problem Based Learning
  3. Discovery Learning

Ketika telah menentukan desain pembelajaran, maka tahap selanjutnya sebelum penyusunan RPP adalah penyusunan instrumen penilaian. Layaknya penyusunan instrumen penilaian pada umumnya, dimulai dari penyusunan kisi-kisi penilaian. Perbedaannya adalah turut mencantumkan domain literasi sains yang ingin dicapai, yaitu konten, konteks, dan kompetensi.

Baca Juga:  Mikawanoh Jam Sunda, Kumpulan Waktu Warisan Kolot Baheula
Contoh tabel kisi-kisi penilaian berbasis literasi sains

Setelah kisi-kisi penilaian dibuat, alangkah baiknya jika dilanjutkan pada penyusunan bahan ajar terlebih dahulu. Umumnya, kita memahami bahan ajar hanyalah sekumpulan materi sebagai sumber belajar. Akan tetapi, dalam pembelajaran berbasis sains bahan ajar juga memuat aktivitas pembelajaran peserta didik hingga evaluasi yang akan diberikan.

Setidaknya, sistematika atau komponen bahan ajar yang dibuat harus memenuhi hal-hal berikut:

  • Judul
  • KI/KD
  • IPK/Tujuan Pembelajaran
  • Aktivitas peserta didik
  • Kajian literasi (bahan bacaan)
  • Evaluasi
  • Glosarium/Daftar Pustaka

Terakhir, barulah semuanya dirangkum dalam sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sistematika RPP yang digunakan boleh disesuaikan dengan kebiasaan/ketentuan yang ada di setiap satuan pendidikan. Minimalnya, sesuai instruksi Mendikbud memenuhi 3 komponen, yaitu tujuan pembelajaran, kegiatan pembelaajaran, dan penilaian.

Praktik Implementasi Pembelajaran Berbasis Literasi Sains

Berangkat dari sebuah “keterpaksaan” memenuhi monev RTL, maka saya pun berusaha melaksanakan praktik pembelajaran berbasis sains di kelas. Meskipun belum sempurna dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, ada beberapa poin yang dapat saya simpulkan.

  • Khusus untuk mapel IPA, literasi sains sebetulnya telah tercermin dalam setiap pembelajaran IPA. Hanya saja, belum terstruktur dan terencana dengan baik.
  • Pembelajaran berbasis literasi sains, membutuhkan perencanaan yang matang. Terlebih dalam penyusunan bahan ajar dan instrumen penilaian.
  • Dibutuhkan time management yang tepat untuk melaksanakan pembelajaran berbasis literasi sains sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan.
  • Dibutuhkan komitmen dan tim work yang solid dengan rekan sejawat untuk melaksanakan pembelajaran berbasis literasi sains, khususnya dalam kegiatan perencanaan.
Baca Juga:  Ternyata Selain Wali yang Sembilan, ada Wali yang Kesepuluh

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan praktik implementasi pembelajaran berbasis literasi sains di kelas pada materi Zat Aditif.

Produk Diklat Peningkatan Kompetensi Guru IPA Berbasis Literasi Sains

Berikut ini terdapat beberapa contoh produk hasil kerja beberapa kelompok saat diklat, juga hasil kerja saya selama melaksanakan RTL berupa:

  • Bahan Ajar
  • RPP

Meskipun belum sempurna (khususnya yang saya buat sendiri) tapi setidaknya semoga dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran berbasis literasi sains.

Demikianlah sekilas tentang pembelajaran berbasis literasi sains, hasil diklat yang saya ikuti. Niatnya hanya sedikit menuliskan ilmu yang terserap tapi mohon maaf jika hasilnya ternyata menjadi sebuah tulisan yang cukup panjang 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Apapun pendekatan/desain/model pembelajarannya, satu hal yang saya yakin kita sepakati bahwa, “setiap Guru akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya…sehebat apapun teknologi tak kan pernah dapat menggantikan peran Guru“.

Terima kasih bapak/ibu Guru yang telah mendidik kami menjadi seorang Guru…kami bangga menjadi GURU!!!

Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
Instagram
WhatsApp