Ketika Kenikmatan di Depan Mata Susah Ditahan

Ada sebuah kisah yang pernah saya ceritakan di kelas, seorang guru membawa 30 potong kue untuk dibagikan kepada 30 siswa di kelas itu. Setelah siap, maka guru mempersilakan siswanya untuk mengambil kue tersebut, dengan ketentuan 1 orang hanya boleh mengambil 1 kue.

Maka semua siswa merangsek ke meja kue, saling dorong, agar dia yang pertama mengambil kue. Semua dalam kepayahan, hanya 1 orang yang santai saja, tidak ikut berebut. Karena dia yakin akan kebagian, karena jumlah kue pas dengan jumlah murid.

Apa yang terjadi? Dia mendapat 1 kue tanpa harus berdesakan. Dan sekian tahun berikutnya, seorang anak yang cerdas tadi, lebih berhasil dalam karir kehidupannya.

Kisah kedua tentang sebuah penelitian. Pada 1970, Walter Mischel mengadakan satu penelitian. Dia membawa berkotak-kotak marshmallow di kelas anak-anak TK. Dia menaruhnya di depan anak-anak itu lalu berkata:

“Kalian boleh memakannya kalau mau, tapi kalau kalian mau menahan tidak memakannya 30 menit saja. Saya janji akan memberikan anda marshmallow lebih banyak”. Begitu.

Baca Juga:  Hidup Ini Tentang Faith, Teamwork, and Focus

Seperti kita duga, mayoritas tak peduli, kenikmatan di depan mata susah ditahan. Hanya beberapa yang bisa, dan bawa pulang banyak marshmallow ke rumah.

Penelitian ini berbuntut panjang, selama 14 tahun berikutnya diteliti, ternyata mereka yang bisa menahan kenikmatan itu, sukses secara signifikan dalam studi dan kariernya.

Kesimpulan dari kisah tadi dan penelitian itu, yang bisa menahan kenikmatan, mengendalikan dirinya, akan lebih positif, optimis, toleran, luwes, mandiri, dan berkompetensi tinggi untuk mengarungi kehidupan, dibanding yang lainnya.

Ibrah dari cerita

Ini tentang berpikir panjang ataukah berpikir pendek

Mikir sampai akhirat itu panjang dan berat, berpeluh dan berlinang air mata, investasi amal-nya dihitung sampai setelah mati, lihat hasilnya lama, namanya TAAT.

Mikir dunia aja itu pendek dan ringan, sesuai dengan nafsu dan keinginan, hitungannya hanya nikmat sesaat, urusan konsekuensi nanti ajalah, namanya MAKSIAT.

Hampir jadi rumus hidup, segala yang instan itu biasanya syaitan yang bawa. Pengen kaya instan, ngepet. Cinta instan, pelet. Pinter instan, nyontek. Hepi instan, nyimeng. Soleh instan, pencitraan. Cakep instan, oplas. Hilang masalah instan, bunuh diri.

Baca Juga:  Dan Aku pun Mengerti, Tak Semua Rasa Perlu Dikata

Ini lebih ke masalah pola pikir sih. Pola pikir INSTAN. Pola pikir MAKSIAT.

Lihat aja, kita sekarang dibiasain dengan semua yang INSTAN. Pengen terkenal, populer, vemes. Tapi kurang skill, kurang mikir, gimana caranya?

Buka baju, pamer badan, nyerempet-nyerempet dikit ke hal mesum, bikin konten heboh, caci maki orang, atau caci maki diri sendiri, do something stupid.

Pikiran pendek. Konsekuensinya? “Kumaha engke wae-lah!”. Yang penting trending dulu. Jangankan akhirat, dunia aja nggak sanggup dipikir panjang.

Cuma mau bilang sama semua yang saya sayangi. Kamu terlalu berharga cuma untuk sekedar hari ini, terlalu penting cuma untuk sekedar dunia ini. Siapapun yang bisa nahan diri dengan kehidupan dunia yang banyak tipuan dan jebakan, memfokuskan diri untuk beroleh yang lebih menjanjikan, kesenangan surga, maka dialah yang akan sukses sebenarnya.

Let’s think smartly!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan