Kisah Raden Longgar Jaya dan Pohon Saparantu Cibalagung Cianjur

Banyak versi cerita tentang asal muasalnya keberadaan pohon saparantu yang terletak di Kampung Saparantu Desa Kademangan Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur. Hal itu sangat wajar karena penyebaran cerita bisanya disampaikan dari mulut ke mulut. Hal itu membuat kami tim Komunitas Napak Tilas SMPN 1 Mande tetarik untuk mendokumentasikan salah satu versi cerita yang beredar di masyarakat Cibalagung Kecamatan Mande Cianjur. Hasil penelusuran ini kami dokumentasikan agar salah satu versi cerita ini menjadi khasanah budaya.

Pagi sangat cerah. Matahari tampak bersinar dengan angkuhnya di upuk timur. Burung berkicau dengan riangnya menyambut hari. Mereka bersiap mengais rezeki yang disediakan Sang maha kuasa. Hari ini kami ada janji dengan seorang teman yang siap mengantar kami ke tempat pohon saparantu. Semalam kami berbincang di ponsel tentang pohon saparantu. Kami bertemu sesuai janji di Balai Desa Kademangan. Setelah saling sapa dan melepas kerinduan kami berangkat menuju letak pohon Saparantu. Setelah sampai kami melihat pohon saparantu persisdihalaman belakang rumah penduduk. Pagar kawat dengan dimeter 2,5 meter yang disanggaa dengan tembokpenguat pada tiap ujung sisi membentengi pohon sapaantu.

Pohon ini usianya sudah ratusan tahun namun nampak masih kelihatan muda. Menurut informasi dari penduduk disana konon pohon yang ada sekarang merupakan tunas yang tumbuh kembali dari pohon pertama yang tumbang. Diameter pangkal pohon ini berkisar 30-40 cm. tidak tampak layaknya pohon yang sudah ratusan tahun tumbuh di kampung ini.

Teman kami yang jadi pengantar kemudian menceritakan tentang kisah pohon saparantu. Dia bercerita asal muasal pohon ini. Dari mana dan siapa pembawanya. Namun dari cerita yang ia sampaikan ada versi yang berbeda dari keterangan yang telah kami dapatkan dari seorang tokoh yang pernah bercerita pada kami 33 tahun silam. Beliau adalah juru kunci Kedaleman Cibalagung. Waktu itu usianya sudah 70 tahun. Kulitna sudah agak keriput. Giginya sudah banyak yang tanggal, Beliau sudah tua renta namun kelihatan masih gesit dan sehat. Kemudian ia bercerita…

Pada jaman dahulu di Cibalagung terdapat sebuah kedaleman. Yang menjadi dalem atau raja pada waktu itu yaitu Raden Saca kusumah bergelar Raden Aria Nata Manggala I. Beliau adalah seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, dicintai dan disegani oleh rakyatnya. Pada saat pemerintahan beliau, Cibalagung ada dalam kadaan aman, subur dan makmur.

Baca Juga:  Mengenal Kisah Situs Sejarah di Kecamatan Mande

Nun jauh di sebuah tempat di daerah Cirebon,terdapat seorang pemuda yang berwajah tampan dan bertubuh tegap. Pemuda itu keturunan bangsawan Cirebon.namanya Raden Longgar Jaya. Seorang Pamuda gagah, sakti dan berbudi luhur.

Pada suatu hari Raden Longgar Jaya berniat memperdalam ilmu yang telah dimilikinya baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu yang berguna untuk kemaslahatan umat. Setelah mendapat restu kedua orang tuanya berangkatlah ia untuk mengembara mendalami kehidupan. Dia berjalan menyusuri kampung keluar kampung. Masuk hutan keluar hutan. sekaligus mengamalkan ilmu yang dikuasainya.

Raden Longgar Jaya ternyata memiliki kelebihan dalam ilmu pertanian. Tidak sedikit kampung-kampung yang dilewatinya ada dalam keadaan gersang, ketika Raden Longgar jaya turun tangan , banyak petani yang terbantu. Daerah yang tadinya kurang subur menjadi subur. Petani yang tidak tahu bagaimana mengolah lahan pertanian, berkat bimbingan dan arahan Raden Longgar Jaya akhirnya mendapat hasil pertanian yang sangat melimpah.

Setelah suatu kampung yang disinggahinya maju berkembang khususnya dibidang pertanian dan perkanan raden longgar jaya meninggalkan kampung tersebut untuk selanjutnya mencari kampung yang baru. Begitulah perjalanan pengembaraan Raden Longgar jaya. Tidak sedikit halangan dan rintangan yang ia temui terutama dari para begal, penyamun dan orang yang tidak suka kepada dirinya atau melihat kampung maju dan berkembang. Namun berkat ilmu kanuragan dan kesaktian yang dimilikinya semuanya bisa diatasi dengan baik.

Setelah bertahun-tahun hidup dalam pengembaraan, suatu hari dalam perjalanannya ia masuk kedalam sebuah hutan belantara. Hutan yang masih perawan belum terjamah oleh manusia. Hari sudah mulai gelap. Matahari tampak memerah di sebelah barat. Ia menghentikan langkahnya. Saat mencari tempat istirahat. Terlihat olehnya sebuah guha. Ia menuju ke guha tersebut. Lalu setelah sampai ia memasuki guha tersebut untuk melepas lelah.

Setelah menunaikan sholat, wirid dan dzikir ia tenggelam dalam penghambaan kepada sang kholik. Raden Longgar Jaya kemudian bersemedi mencari petunjuk tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Di atas sebuah batu beliau duduk bersila memusatkan pikiran meminta pertolongan Alloh agar dapat mengamalkan segala ilmu yang dimiliknya.

Setelah sekian lama ia bertapa. Di suatu malam yang hening datanglah seorang kakek tua berjubah dan berjanggut putih. Kakek itu berdiri di depan Raden Longgar Jaya. Kemudian ia berkata “ Cucuku bangunlah. Sudah saatnya Kau pergi dari tempat ini. Pergilah ke Sebelah Barat nanti Kau akan menemukan sebuah kedaleman . Mengabdilah di sana.”

Baca Juga:  Menyusuri Jejak Sejarah Raden Aria Natamanggala I (Dalem Cikadu)

Setelah berkata lalu kakek tua itu menghilang.

Raden Longgar Jaya kaget lalu terbangun dari semedinya. Ia mencari Kakek Tua berjubah putih namun tidak ada. Setelah sadar ia melihat sebuah tongkat tertancap tepat di hadapannya, dimana kakek itu berdiri. Lalu ia hampiri dan dicabutnya. Setelah diperiksa hanya sebuah kayu yang masih basah.

Keesokan harinya berangkatlah ia meneruskan perjalanan menuju ke sebelah barat sesuai dengan petunjuk dari kakek berjanggut putih. Ia membawa serta tongkat kayu yang di dapatinya di guha. Ia terus berjalan masuk hutan keluar hutan menerobos gelapnya malam, makan dari pucuk dan buah yang ia temui di hutan. Tidur di atas pohon atau di guha yang ia temui.

Setelah berbulan-bulan ia berjalan sampailah ia di suatu kampung. Ia berpikir barangkali inilah kedaleman yang ia tuju. Sesampai di pinggir kampung Lalu Ia menancapkan tongkat kayu yang selama ini menemaninya dalam perjalanan. Kemudian ia terus berjalan memasuki kampung untuk mencari tahu apakah benar ini kampung yang dimaksud dalam mimpinya. Benar saja tidak lama berselang ia menemui bangunan besar seperti balai pertemuan.

Setelah bertemu dengan beberapa penduduk yakinlah ia bahwa ini sebuah kedaleman sesuai dengan petunjuk kakek janggut putih.

Dengan diantar oleh penjaga ia menemui Dalem Raden Aria Nata Manggala I. Pucuk tertinggi pemerintahan Kedaleman Cibalagung. Kemudian ia diperiksa. Ia menceritakan asal-usulnya dan menyampaikan keinginannya untuk mendarmabaktikan hidupnya untuk mengabdi di Kedaleman Cibalagung.

Tentu saja Sang Dalem Raden Aria Nata Manggala sangat bergembira. Beliau menyambut baik keinginan Raden Longgar Jaya. Apalagi Beliau membutuhkan orang-orang yang cakap, cerdas dan terampil dalam mengembangkan kedaleman Cibalagung, demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Raden Aria Nata Manggala semakin tertarik dengan pengetahuan tentang bertani yang dikuasai Raden Longgar Jaya.

Karena Raden Longgar Jaya Ilmu pengetahuannya sangat tinggi serta orangnya jujur ahirnya ia menjadi orang kepercayaan Dalem Aria Nata Manggala I. Ketika ada permasalahan yang berkaitan dengan kemakmuran rakyat raden Longgar jaya sering diajak musyawarah. Tidak jarang juga Dalem Raden Aria Nata manggala mengundang Raden Longgar jaya hanya untuk bertukar pikiran. Saking seringnya diajak musywarah maka raden Longgar Jaya terkenal dengan nama Samporang Ratu. Artinya tempat Ratu bermusyawarah.Kemudian lama kelamaan berubah menjadi Saparantu. Dan sampai sekarang beliau dikenal dengan nama Eyang Saparantu yang kemudian menjadi nama kampung tempat beliau tinggal.

Baca Juga:  Menyusuri Jejak Sejarah Raden Aria Natamanggala I ( Bagian ke-2)

Selanjutnya tongkat kayu yang Beliau tancapkan di pinggir kampung kemudian tumbuh, bertunas dan akhirnya menjadi pohon yang tumbuh dengan suburnya. Kemudian pohon itu beliau beri nama dengan nama pohon Saparantu. Pohonnya sampai sekarang masih ada dan tumbuh dengan subur. Kampung di sekitarnya juga bernama Kampung Saparantu. Buahnya sangat istimewa dan banyak khasiatnya. Kalau buahnya dibakar asapnya mengeluarkan aroma wangi dan bagi orang yang memiliki rasa kebatinan yang tingi, asap dari buah saparantu itu konon membuat makhluk tak kasat mata berdatangan untuk menikmati aroma wangi tersebut. Wallahu a’lam..

Tentang keberadaan makam Eyang saparantu (Raden Longgar Jaya) sampai sekarang masih misterius. Tidak ada yang dapat menunjukan letak makamnya. Namun dari hasil penulusuran kami ada di antaranya warga masyarakat yang menyebutkan bahwa konon sepeninggal Raden Aria Nata Manggala I, Raden longgar jaya meninggalkan Kedaleman Cibalagung menuju ke arah Barat .Beliau melanjutkan perjalanan meninggalkan Cibalagung karena dirasa keadaan Cibalagung dari segi pertanian sudah sangat berkembang. Kemudian berdasarkan informasi yang berkembang di daerah Banten juga ada pohon saparantu. Apakah ini ada hubungannya dengan Raden Longgar Jaya ? Wallahu a’lam. Perlu penulusuran yang lebih saksama.