Ulasan Puisi “Buka Matamu Buka” Karya Bu Hadijah, S.Pd Deni Kurnia, 20 September 202420 September 2024 Ulasan Puisi “Buka Matamu Buka” Karya Bu Hadijah, S.Pd Sebuah puisi bernada otokritik dan kritik sosial karya seorang guru SMPN 1 Mande, Bu Hadijah. Puisi ini sengaja dibuat untuk dibacakan dalam momen readathon edisi tiga bahasa. Admin web merasa terenyuh dan terpanggil jiwanya untuk mengulasnya, walau secara sederhana dan penuh kekurangan. Yuk kita ke TKP🤭 Buka matamu buka Buka matamu buka…Jerit itu adaDari sebuah sengsara RasaTerasaSakit di ronggaKian menganga Buka matamu buka …Timpa laparTak berkesudahanBuncit sakitUsus melilitKunyah tak bersihCipta penyakit Buka matamu buka …TidurDi atas trotoarKedinginan…Angin malamKepanasan…Sorot matahariTak jelas rupa badan Buka matamu buka …Di pinggiran jalanKadang ke tengah jalananBerebut dengan keringatAsongkan plastikBekas permenTuk dapat belas kasihanMenunggu uang recehanDari pemberi yang ikhlasIni penyakit malu yang hilang?Atau sebuah kebutuhan? Tanggung jawab siapa?Aku?Kita?Merka? Mari sumbang sedikitCaraSolusiBiar tak begini Ulasan Puisi Buka Matamu Buka Puisi berjudul “Buka Matamu Buka” karya Bu Hadijah, S.Pd, merupakan sebuah potret yang mendalam dan menyentuh tentang kondisi sosial yang sering kali diabaikan. Puisi ini menggugah kesadaran pembaca untuk lebih peka terhadap penderitaan yang terjadi di sekeliling kita, terutama mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Baca Juga: Bedah Puisi Karya Bu Nina: Karena Rasa Sesal Susah SirnaTema dan Makna Tema utama dari puisi ini adalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Frasa berulang “Buka matamu buka” berfungsi sebagai seruan yang kuat agar kita, sebagai masyarakat, membuka mata terhadap realitas pahit yang sering kali kita acuhkan. Penderitaan, kelaparan, dan ketidakpastian hidup menjadi gambaran yang nyata dalam setiap baitnya. Puisi ini tidak hanya menggambarkan penderitaan fisik, tetapi juga melukiskan penderitaan mental yang dirasakan oleh mereka yang terpinggirkan. Melalui bait “Tidur di atas trotoar / Kedinginan… / Angin malam / Kepanasan… / Sorot matahari”, Bu Hadijah menampilkan bagaimana para tunawisma harus bertahan di tengah kerasnya alam tanpa perlindungan yang layak. Diksi dan Gaya Bahasa Pemilihan diksi dalam puisi ini sangat tepat untuk menyampaikan perasaan pedih dan keputusasaan. Kata-kata seperti “jerit”, “sengsara”, “sakit di rongga”, dan “melilit” memberikan kesan mendalam akan penderitaan yang dialami oleh subjek dalam puisi ini. Penggunaan majas personifikasi pada “timpa lapar / tak berkesudahan” dan “sorot matahari / tak jelas rupa badan” memperkuat kesan betapa beratnya beban yang ditanggung oleh mereka yang hidup di jalanan. Baca Juga: Tanggal 13 November Hari Kebaikan Sedunia, Pentingkah?Pengulangan frasa “Buka matamu buka” bukan sekadar untuk menambah kekuatan retorika, tetapi juga menggambarkan urgensi dari pesan yang ingin disampaikan. Ini adalah panggilan bagi pembaca untuk melihat lebih dekat dan lebih peduli. Kritik Sosial Salah satu kekuatan puisi ini terletak pada kritik sosialnya yang jelas namun tidak terkesan menghakimi. Dalam bait “Tanggung jawab siapa? / Aku? / Kita? / Mereka?” Bu Hadijah mengajak pembaca untuk merenung tentang tanggung jawab kita sebagai individu dan sebagai masyarakat dalam menghadapi masalah kemiskinan dan ketidakadilan. Pertanyaan ini menjadi sentral dalam membangun kesadaran kolektif. Apakah kemiskinan adalah masalah yang harus dibiarkan? Ataukah kita, sebagai bagian dari masyarakat, memiliki tanggung jawab moral untuk mencari solusi? Bu Hadijah menutup puisi ini dengan sebuah ajakan: “Mari sumbang sedikit / Cara / Solusi / Biar tak begini”, yang mengingatkan bahwa setiap orang dapat berkontribusi, meskipun dalam skala kecil. Kesimpulan Puisi “Buka Matamu Buka” adalah sebuah karya yang penuh makna dan perenungan. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh daya, Bu Hadijah berhasil menyentuh nurani pembaca dan mengajak mereka untuk lebih peduli terhadap penderitaan sesama. Baca Juga: JuFE di SMPN 1 Mande: Upaya Cegah Anemia pada Remaja PutriKarya ini bukan sekadar sebuah kritik sosial, melainkan juga sebuah panggilan moral untuk bergerak bersama dalam menyelesaikan masalah kemiskinan dan ketidakadilan. Profil Penulis Deni Kurnia Seorang Pembelajar, Tak Lebih. Artikel Terbaru dari Penulis Satman News11 Mei 2026FLS3N 2026 Dimulai, SMPN 1 Mande Siapkan Pendamping dan Strategi Terbaik Satman News11 Mei 2026Upacara Bendera SMPN 1 Mande: Belajar Makna Kehidupan dari Layang-Layang Satman News10 Mei 2026Mengingat Kematian sebagai Tanda Kecerdasan Spiritual Satman News18 Juni 2025Mie Sedaap Berbagi 240 Porsi Mie Gratis di SMPN 1 Mande Cianjur Yang Ini Juga Keren:Readathon Spesial Satman, Unjuk Karya P5 dan Bina…Readathon Bahasa di SMPN 1 Mande, dari Membaca hingga PuisiSecarik Puisi Bagi Mereka yang Pergi Satman News puisismpn 1 Mandeulasan puisi