Silaturahmi Pasca Idul Fitri: Perkuat Syukur dan Sabar

Senin, 24 Mei 2021 ini, Keluarga Besar SMP Negeri 1 Mande menggelar acara “Silaturahmi Pasca Idul Fitri”. Acara seperti ini rutin diselenggarakan tiap tahun, dan ada yang spesial dalam pelaksanaan silaturahmi kali ini. Pertama, acara dilaksanakan di rumah Bu Mila Nursyafriatini. Yang kedua, acara kombinasi, syukuran dan rapat dinas. Rapat dinas dilaksanakan di sebuah madrasah di samping rumah Bu Mila. 

Untuk rapat dinas dipandu oleh tim kurikulum (Pak Kris, Bu Yuni, dan Bu Siti Mk) membahas persiapan PAT dan pertemuan dengan orang tua kelas 7-8 dan ihwal pelulusan kelas 9. Rapat berlangsung selama 1 jam, menghasilkan beberapa konklusi yang menjadi pegangan para wali kelas. 

Acara kedua, Gelaran  “Silaturahmi Pasca Idul Fitri” keluarga besar SMP Negeri 1 Mande mengusung tema, “Memperkuat Sabar dan Syukur”. Acara ini memiliki maksud :

  1. Syukuran kelulusan Bu Mila menjadi ASN, sekaligus kehamilan beliau 9 bulan
  2. Syukuran kehamilan 4 bulanan Neng Nugraheni Wahyu Permatasari, ananda Bu Hj Ekowati 
  3. Halal bihalal keluarga besar Satman

Dilaksanakan dengan susunan acara sebagai berikut:

  • Pembukaan
  • Prakata sohibul bait
  • Sambutan dari Pak KS
  • Hadiah
  • Tausiyah
  • Doa tutup
  • Musafahah dan ramah tamah
Baca Juga:  Ripaul Fadilah, Alumni SMPN 1 Mande yang Lolos Kompetisi Sains Nasional

Sedangkan personil yang terlibat acara adalah:

  • Pembawa acara : Pak Drs. Aah Havid
  • Tausiyah : Pak Deni Kurnia, S.Pd.I
  • Notulen : Bu Hj.Teti Hermiati, S.Ag.
  • Juga seluruh insan warga Satman dengan peran masing-masing yang tak mungkin disebutkan dalam postingan ini.

Resume Tausiyah

Judul materi : Memperkuat Sabar dan Syukur

Rasulullah SAW memberikan pujian khusus kepada kaum mukminin

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Sebuah pujian atas sikap kaum mukmin (sejati) yang jika kebahagiaan menghampiri, ia akan bersyukur, dan jika kesedihan kesulitan menimpa, ia akan sabar. Maka syukur dan sabar itu menjadi kebaikan bagi mukmin tersebut.

Baca Juga:  Tahun Baru 1442 Hijriah, Merangkai Harapan Memupuk Kebersamaan

Mengapa kita harus memiliki sikap syukur dan sabar?

Jawabannya tiada lain, karena keduanya diwajibkan oleh Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah) tatkala Pemelihara kalian mengumumkan bahwasanya jika kalian bersyukur, maka sungguh Aku akan tambah untuk kalian (akan nikmat). Dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.(QS Ibrahim: 7)

Juga firman-Nya:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ


Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu‘,(QS Al Baqarah: 45)

Jika melihat kedua ayat ini, SYUKUR dan SABAR adalah sebuah kewajiban bagi kaum Mukminin. Karena keduanya merupakan modal bagi penguatan nafsiyah dalam menjalani kehidupan dengan ketaatan.

Bagaimana Cara Bersyukur?

Bersyukur dilakukan dengan tiga hal yaitu:

  • Bersyukur dengan hati
  • Bersyukur dengan lisan
  • Bersyukur dengan perbuatan

Secara hakiki, bersyukur adalah memanfaatkan apapun nikmat dari ALLAH untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya. Sekecil apapun nikmat, harus disyukuri.

Baca Juga:  Ikhtiar kecil mengisi Ramadhan, Mengumpulkan Tiket Menuju Jannah

Bagaimana cara bersabar?

Sabar adalah kemampuan untuk menahan diri dan keteguhan dalam menjalani ketaatan. Menahan diri dari kemaksiatan dan keteguhan dalam beribadah, adalah dua hal yang menyertai makna bersabar.

Bersabar atas musibah, terlihat ketika pukulan pertama hantaman musibah itu. Bagaimana sikap kita dengan hantaman itu, apakah mengeluh dan mengucapkan perkataan ingkar, ataukah bersabar dan memuji Allah.

Demikian resume Tausiyah dalam Gelaran acara syukuran tadi.

Khotimah

Pada akhirnya inilah sebuah ikhtiar kita untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas nafsiyah.

Terima kasih kepada Bu Mila dan Bu Hj Ekowati beserta keluarga atas jamuan hari ini. Terima kasih pula kepada semua insan pendidik dan tenaga kependudukan Satman, yang hadir dalam acara ini.

Semoga kebaikan berbalas kebaikan.

Tinggalkan Balasan