Sekolah Ramah Anak: Program Nasional yang Kini Diperkuat di Cianjur, Apa Saja Poin Pentingnya?

Ada satu hal yang sering kita lupa ketika membicarakan pendidikan: murid bukan hanya penerima materi pelajaran, tetapi manusia utuh yang sedang tumbuh. Mereka datang ke sekolah membawa perasaan, pengalaman rumah, kegembiraan, kekhawatiran—bahkan luka yang tak selalu terlihat.

Karena itu, ketika Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur menerbitkan Surat Tugas Pembinaan Sekolah Ramah Anak (SRA) dan mengutus puluhan satuan pendidikan, dari PAUD hingga SMA, untuk mengikuti pembinaan pada 19 November 2025, di Bale Praja Komplek Pendopo Bupati Cianjur.

Langkah ini bukan sekadar acara rutin. Ini adalah komitmen moral bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan hangat bagi setiap anak—tanpa kecuali.

Deni Kurnia, wakil dari SMPN 1 Mande dalam kegiatan Sosialisasi Sekolah Ramah Anak di Cianjur

Apa Itu Sekolah Ramah Anak?

Secara nasional, Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah program Kementerian PPPA yang bertujuan memastikan seluruh sekolah:

  • bebas kekerasan,
  • bebas bullying,
  • bebas diskriminasi,
  • mendukung tumbuh kembang anak,
  • dan menghadirkan lingkungan fisik serta sosial yang aman.

Tidak berlebihan bila SRA disebut sebagai “jiwa” dari pendidikan yang berpihak pada murid.

SRA bukan hanya urusan guru BK atau kepala sekolah. Ia menyangkut cara guru menyapa murid, cara kelas ditata, cara wali murid dilibatkan, hingga bagaimana sekolah menangani konflik kecil yang muncul. Di banyak tempat, justru hal-hal kecil itulah yang sering terabaikan.

Baca Juga:  Penegakan Tata Tertib SMPN 1 Mande di Masa PTMT

Cianjur Mulai Melangkah: Dari PAUD sampai SMA

Melihat daftar peserta, ada satu hal menggembirakan: gerakan ini lintas jenjang.
Ada TK, KB, PAUD, SD, SMP, dan SMA. Ada peserta dari Mande, Karangtengah, Cilaku, Warungkondang, Cikalongkulon, Sukaluyu, dan yang lainnya. Ada guru, kepala sekolah, Waka Kesiswaan,dan tenaga pendidik yang masing-masing membawa pengalaman berbeda.

Inilah sinyal yang baik: SRA tidak lagi dianggap sebagai program tambahan, tetapi kebutuhan.

Yang menarik, pembinaan ini juga mewajibkan peserta membuat laporan hasil kegiatan. Artinya, bukan hanya hadir dan mendengar—tetapi menindaklanjuti, mempraktikkan, dan membangun budaya baru di sekolah masing-masing.

Budaya ini hanya akan bertahan jika dipraktekkan ulang setiap hari.

Mengapa SRA Semakin Mendesak Hari Ini?

Jika kita jujur, kesibukan dunia sekolah sering membuat hubungan manusia di dalamnya tergeser oleh administrasi, target nilai, dan rutinitas yang melelahkan.

Beberapa gejala yang makin sering kita dengar:

  • Murid hilang motivasi karena suasana kelas terlalu kaku.
  • Guru burnout, merasa bekerja sendirian.
  • Orang tua sering hanya muncul saat ada masalah.
  • Bullying dianggap “biasa”.
  • Kekerasan verbal dari orang dewasa tidak dicatat sebagai pelanggaran.

Jika sekolah ingin menyiapkan masa depan murid, maka sekolah harus lebih dulu memastikan bahwa anak betah dan merasa aman ketika belajar.

Karena tidak ada anak yang bisa fokus belajar bila batinnya gelisah.

Baca Juga:  Paturay Tineung Kelas IX SMPN 1 Mande Angkatan Ke-55

Tiga Pilar Penting SRA yang Harus Mengakar

Dari berbagai panduan nasional SRA, ada tiga hal yang harus jadi pijakan:

1. Lingkungan Fisik yang Aman

Sekolah harus memastikan:

  • ruang kelas bersih dan nyaman,
  • tidak ada titik rawan kekerasan,
  • toilet ramah anak,
  • akses aman bagi anak berkebutuhan khusus.

Ini bukan hal remeh. Lingkungan fisik yang buruk sering menjadi sumber stres yang tidak disadari.

2. Relasi Sosial yang Sehat

Inilah inti dari SRA:

  • guru yang humanis,
  • murid yang saling menghargai,
  • komunikasi yang terbuka,
  • penyelesaian masalah tanpa kekerasan.

Relasi baik akan melahirkan rasa aman. Rasa aman akan melahirkan keberanian belajar.

3. Kebijakan dan Budaya Sekolah yang Mendukung

Sekolah harus punya SOP, komitmen bersama, pembiasaan positif, serta pelibatan orang tua. SRA bukan hanya proyek, tapi budaya.

Cianjur Bisa Menjadi Model

Jika 90 lebih satuan pendidikan yang mendapat tugas ini bergerak bersama—membawa semangat baru, membangun ruang aman, memperbaiki komunikasi, melibatkan orang tua—Cianjur bisa menjadi contoh bagaimana SRA bukan sekadar slogan, tetapi gerakan nyata.

Gerakan perubahan ini dimulai dari hal sederhana:

  • guru menyapa murid dengan lebih hangat,
  • kepala sekolah mendengar keluhan tanpa menghakimi,
  • murid dilibatkan dalam menjaga lingkungan,
  • dan orang tua dianggap sebagai mitra sejajar.
Baca Juga:  Salah satu Sudut Kemeriahan Porsegur PGRI Cabang Mande

Itulah yang akan membuat sekolah menjadi tempat yang dirindukan, bukan ditakuti.

Penutup: Sekolah Ramah Anak Itu Soal Hati

Pada akhirnya, SRA adalah tentang kemanusiaan.
Tentang bagaimana orang dewasa di sekolah memandang anak bukan sebagai beban, tapi sebagai amanah.

Kegiatan ini hanya titik awal.
Gerakan sesungguhnya ada di ruang kelas, di lorong sekolah, di rapat guru, di cara kita berbicara, dan di cara kita mendengarkan.

Jika hati kita berpihak pada murid, maka SRA akan tumbuh menjadi budaya, bukan sekadar program.

Profil Penulis

Redaksi
Redaksi

Bagikan:

Tags

Related Post