Evaluasi dan Refleksi Pembelajaran Daring SMPN 1 Mande (Juli-Agustus 2020)

Tujuh pekan sudah Satman menyelenggarakan pembelajaran daring atau BDR (belajar dari rumah). Berbagai suka duka telah dirasakan dan pada tanggal 1 September 2020 kemarin, diadakan evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran daring yang telah diselenggarakan. Mengumpulkan kendala dan mencari solusi guna pelaksanaan pembelajaran yang lebih baik di masa yang akan datang.

Perkembangan Pembelajaran

Pembelajaran daring yang diselenggarakan di SMPN 1 Mande sejak awal tahun ajaran di bulan Juli 2020 lalu menggunakan dua aplikasi digital, yaitu Whatsaap dan GCR (Google Classrom). Setelah berjalan tujuh pekan ini, alahamdulillah pembelajaran berjalan cukup baik, meskipun masih belum optimal. Respon peserta didik dalam GCR berkisar antara 30% – 60%. Sementara respon peserta didik dalam Whatsaap Group kelas yang dikelola oleh wali kelas cukup baik, mencapai sekitar 90%. Oleh karena itu, penggunaan Whatsaap Group tetap menjadi andalan bagi wali kelas dan guru mapel untuk menyelenggarakan pembelajaran.

Selain pembelajaran daring untuk 11 mata pelajaran yang telah dilakukan, SMPN 1 Mande juga memiliki program unggulan dalam kegiatan pembisaan. Alhamdulillah selama tujuh pekan ini, kegiatan pembiasaan sholat dhuha, tadarusan, dan pelafalah asmaul husna sebelum memulai pembelajaran telah berjalan dengan baik. Terima kasih untuk putra-putri kami yang soleh dan solehah…semoga senantiasa istikomah dalam kebaikan.

Baca Juga:  PTS Coming Soon...

Kendala Pembelajaran Daring

Berdasarkan hasil evaluasi berupa laporan dari setiap wali kelas dan guru mata pelajaran, beberapa kendala pokok yang muncul dapat dikategorikan pada beberapa hal berikut:

  1. Keterbatasan fasilitas
    • Tidak memiliki handphone (gadget) sebagai perangkat pembelajaran
    • Keterbatasan akses jaringan internet di lingkungan rumah
    • Keterbatasan kuota internet yang dimiliki peserta didik
  2. Kerjasama orang tua
    • Beberapa orang tua kurang berperan aktif dalam mendampingi pembelajaran daring atau BDR
    • Keharmonisan keluarga turut mempengaruhi semangat belajar peserta didik
  3. Kejenuhan peserta didik
    • Metode pembelajaran yang menggunakan teknik penugasan dirasakan monoton dan membuat jemu peserta didik
    • Peserta didik merasa terbebani dengan banyaknya tugas yang diberikan
    • Godaan game online lebih menggiurkan dibandingkan aktivitas pembelajaran daring

Solusi Permasalahn Pembelajaran Daring

Beberapa alternatif solusi yang akan ditempuh oleh pihak sekolah, antara lain:

  1. Memfasilitasi penyediaan kuota internet, menyambut program pemerintah tentang pemberian kuota bagi peserta didik maka sekolah telah mengajukan nomor handphone setiap peserta didik dan guru yang akan mendapatkan kuota dari pemerintah (35 Gbyte untuk peserta didik dan 42 Gbyte untuk guru).
  2. Memfasilitasi pemberian tugas offline bagi peserta didik yang betul-betul tidak mampu mengikuti pembelajaran daring karena tidak memiliki perangkat gawai (gadget). Dapat dilakukan dengan pemanggilan orang tua maupun home visit yan dilakukan oleh wali kelas.
  3. Meminimalisir penggunaan kuota internet, dengan tidak mengirimkan link youtube setiap kali pertemuan daring.
  4. Meminimalisir pemberian tugas-tugas untuk setiap guru mata pelajaran.
  5. Mengoptimalkan pembelajaran via Whatsaap, sebagai aplikasi yang mudah diakses oleh mayoritas peserta didik.
  6. Mengundang orang tua/wali peserta didik untuk mengadakan pertemuan setiap akhir bulan, dengan tetap memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan. Pertemuan ini bertujuan untuk menyampaikan hasil evaluasi dan refleksi pembelajaran daring, sekaligus untuk memantau perkembangan belajar peserta didik.
Baca Juga:  Era Pembelajaran Digital - Satman on GCR

Bukanlah suatu hal yang mudah untuk mengatasi kendala yang terjadi. Akan tetapi, bukan juga hal yang mustahil jika kita memiliki niat dan keinginan kuat untuk memperbaiki. Dibutuhkan kerjasama dan komitmen dari berbagai pihak yang terlibat, mulai dari perangkat sekolah, orang tua/wali, juga peserta didik itu sendiri. Maka dari itu, mari kita terus berusaha memperbaiki pelayanan terbaik bagi putra-putri harapan bangsa agar dapat belajar dengan optimal. Karena pada prinsipnya belajar dapat dilakukan dimana pun, kapan pun, dengan metode apa pun, setiap saat, sepanjang hayat.

Semoga pandemi ini segera berakhir, sebab tidak hanya peserta didik dan orang tua/wali yang sudah merindukan tatap muka di sekolah seperti biasa. Kami para guru pun sudah sangat merindukan kembali bertatap muka dengan putra-putri tercinta.

6 Comments

Tinggalkan Balasan